Kamis, 19 Mei 2011

TANPAMU KAMI BUKAN SIAPA-SIAPA

Disebuah desa yang jauh dari ramainya kota, hidup sebuah keluarga yang sederhana, keluarga yang selalu patuh dan taat kepada-Nya. Semua itu terjaga karena seorang lelaki tua yang selalu mengingatkan kami anaknya untuk selalu ingat dan mengerjakan perintah-Nya.

Lembut kasih sayangmu dan merdu suaramu dalam menzikirkan kami sehingga membuat kami terlena saat memanjakan kami diwaktu engkau meniduri kami dalam ayunan.
Tanpamu kami bukan apa-apa, tanpa bimbinganmu kami bukan siapa-siapa, tanpa didikanmu kami tak mungkin bisa berkarya, tanpa perjuangan dan belaian kasihmu kami tak mungkin bisa menempuh pendidikan Sarjana.

Kau selalu menjadi penghibur kami saat kami dalam kesedihan, kau selalu menjadi penolong kami saat kami dalam kebimbangan. Sungguh engkaulah yang selalu dan setiap waktu bisa menjadi segalanya bagi kami,

Kami anak-anakmu takkan pernah bisa membalas segalanya terhadap apa yang telah kau berikan untuk kami. Berat langkah kami tanpa arahanmu, gelap kehidupan kami tanpa didikanmu, buta mata kami tanpa nasihatmu.

Kesuksesanmu dan mampu dalam mendidik kami anak-anakmu telah terbukti dengan apa yang telah didapatkan anak sulungmu, telah terpancarkan salah satu keberhasilanmu dalam membimbing kami.

Berasal dari keluarga biasa telah menjadi orang luar biasa, anak sulungmu mengakui sungguh besar perjuanganmu dalam memenuhi kebutuhannya dalam meraih cita-cita, dia tidak akan sukses tanpamu, tanpa do’amu.

Engkau bukan keturunan bangsawan yang bergelimang harta dan akan mewariskan kepada kami turunanmu. Kami menyadari engkau hanyalah seorang hamba yang diciptakan dan dilahirkan dalam keluarga yang biasa. Tapi bagi kami, engkau telah mewariskan harta yang paling termahal yang kami miliki, takkan ada yang bisa menyayinginya, takkan ada yang bisa melebihinya, nashihatmu, didikanmu, bimbinganmu, dan segalanya.

Kami telah engkau besarkan dengan sempurna, kau dirikan untuk kami benteng yang kokoh yang akan mampu dan siap untuk menghadapi masa depan, engkau telah menghiasi kami dengan warna-warna kecerahan yang bersinar yang akan bisa menerangi kami dan mewarnai kehidupan kami.

Kami telah engkau bekali dunia dan akhirat dengan didikan yang tak ternilai, sehingga kami bisa membedakan yang mana kebenaran dan yang mana kebusukan.
Sungguh berat rasanya bila kami kehilanganmu. Aku anak kelima dari enam saudaraku, selalu menghentangkan tangan keatas dan memohon kepada-Nya dengan cucuran air mata dan mengucapkan kata-kata, Ya Allah panjangkan umur Ayah dan ibuku, Ya Allah sehatkan jiwa dan raga mereka, mudahkanlah rezeki, selamatkan iman mereka Ya Allah, Amiin ya rabbal ‘alamin.

Pernahku mencucurkan air mata yang tak terhenti saat engkau melangkah dari gerbangnya istana kita dan pergi menjalankan perintah-Nya, untuk menunaikan ibadah dan memenuhi rukun kelima.

Di istana kita engkau juga membangun Balai pengajian selain mendidik kami anakmu juga mendidik anak-anak lain dan membekali mereka untuk akhirat. Aku anakmu dan aku juga muridmu, engkau orang tuaku dan juga guruku.

Dengan tongkat rotanmu yang besar yang selalu kau pegang saat mengajari kami, selalu siap menjadi tangan pengusir jin dan godaan yang ada pada kami, yang sesekali mendarat dipunggung kami yang menyeleweng dan melanggar aturan. Kebandelan kami akan pudar saat melihat rotanmu, keseganan kami bertambah lebih besar kepadamu.

Kacamata yang besar yang selalu kau gunakan untuk menerangi penglihatanmu saat mengajari kami membuat engkau terlihat layaknya seorang profesor. Lantangnya suarumu terdengar jelas di telinga kami sehingga membuat kami takkan pernah lelap dalam menggali pengetahuan.

Terkadang engkau terlihat seram dengan kumismu yang tebal dan jenggotmu yang tipis lagi beruban, tapi ternyata tidak seperti yang orang bayangkan, engkau juga bisa membuat kami tertawa saat mengolah kata-kata dan bercerita. Kewibawaanmu dalam mendidik membuat kami segan dalam melanggar aturan.

1 komentar:

  1. paragraf ke empat terakhir sangat menarik, bahasa biasa, namun enak bica...

    BalasHapus